Home >> News & Events
MAKNA PAMELEON BOLON
Sunday, 22 June 2008
Mengucap syukur Kepada MULAJADI NABOLON atas anugrah
sepenjang tahun yang diberikan.
Setahun sudah bekerja, bulan “sipahatolu” sudah
tiba, hasil sudah didepan mata, padi menguning memberikan harapan baru. Syukur
kepada Pencipta, Dia yang memberi, Dia alamat sembah, kepadaNya hasil ini lebih
dulu dipersembahkan.
Bulir padi matang, bernas dipilih, dipetik
dengan tangan. Sebagian disimpan untuk bekal benih untuk musim tanam mendatang,
sebagian diolah menjadi “itak gurgur”. Inilah “matumona” memetik perdana hasil panen
untuk persembahan kepada Pencipta dan persiapan benih.
Memasuki bulan “sipahaopat” semua penduduk
sudah selesai memetik hasil panen. Persembahan akbar disiapkan. Raja menetapkan
hari bulan mendatang, bulan purnama, samisara purasa, bulan “sipahalima”.
“Horbo sitingko tanduk siopat pusoran” dipersiapkan. Kerbau
pilihan memiliki empat pusar dan tanduk melingkar, gemuk dan tegar. Hasil panen
masyarakat dipilih yang terbaik, diolah menjadi “pelean” persembahan kepada
Mulajadi Nabolon bersama kerbau pilihan.
Uluan Bolon pilihan para Raja Bius “martonggo”
kepada Mulajadi Nabolon menghaturkan sembah, mengucap syukur atas anugrah
sepenjang tahun yang diberikan. Manifestasinya melalui sikap tunduk sujudnya
semua umat menghantar sajian debata ditata diatas “Langgatan” altar
persembahan. Sikap individu ditunjukkan dengan tarian yang diiringi “ogung sada
bangunan”, irama musik tradisi menghantar doa persembahan.
Batak diintervensi. Menghaturkan sembah menurut
tradisi batak pun dilarang. Membunyikan gendang dianggap haram. Menyembah
Mulajadi Nabolon dituding penyembahan berhala. Mereka dipermalukan karena tidak
mengenal jalan kebenaran. Sebagian besar dari mereka berangsek meninggalkan
tradisi upacara persembahan karena dinilai tidak memiliki pengharapan.
Ada yang menolak, berusaha
bertahan. Sikap Hamalimon Batak harus dijalankan. Mereka memiliki pengharapan,
karena sudah dijalankan turun temurun bersamaan dengan pelembagaan hukum dan
aturan kemasyarakatan. Mereka berkumpul-mengkristal-terdiskriminasi, termasuk
dari mereka yang dulunya bersama-sama melakoni.
Inilah kemudian yang dikenal dengan Ugamo
Malim, sebutan kepada mereka Parmalim. Bertahan melakukan persembahan kepada
Mulajadi Nabolon sesuai tradisi yang sudah dijalankan para leluhur.
Saat ini orang Batak melihatnya seperti sesuatu
yang aneh, kadang disebut tradisi Parmalim karena mereka sudah sejak lama
meninggalkannya walau itu dulunya tradisi Batak. Mereka sudah menjadi bagian
lain dari Batak, sehingga kegiatan yang dilakukan Parmalim dinilai internal dan
mereka berada pada bagian luar. Inilah dulunya yang dituding upacara pemujaan
berhala. Dan ini pula yang melekat di sanubari orang batak menyebut para
leluhurnya “sepele begu” karena tidak seperti “kekinian” mereka. Mereka
melihatnya hanya sebagai tontonan, kegiatan budaya yang menghibur, obyek
wisata.
Kekakuaan para “penuding” tidak pernah disikapi
Parmalim dengan cara bodoh. Selama rohaninya terpenuhi, terus dilakoni walau
diiringi caci-maki. Ada
pengharapan Parmalim dengan melakukan persembahan kepada Mulajadi Nabolon dan
mohon pengampunan atas semua kesalahan yang menjadi dosa selama satu tahun
berjalan. Dipanjatkan doa permohonan untuk satu tahun kedepan diberikan rejeki
bertambah, kesehatan, perumbuhan, kebijaksanaan dan kekuatan.
News List:
Pages: 1
|